Home > Rancangan Sistem, Serba-serbi > Single-Vendor vs. Multi-Vendor

Single-Vendor vs. Multi-Vendor


Tulisan ini mencoba membuka wawasan mengenai solusi terhadap kebutuhan teknologi informasi. Dalam pengadaan solusi, kita dihadapkan pada dua pilihan, yaitu membeli produk – hardware atau software – dari satu vendor tunggal atau dari beberapa vendor. Pendekatan yang pilih, masing-masing tentu mempunyai kelebihan dan kekurangan. Mengapa tulisan ini menganjurkan anda mengambil pendekatan multi-vendor?

Begitu banyak produk IT (information technology), baik hardware maupun software tersedia saat ini. Bisnis di bidang jaringan komputer termasuk yang sangat bergairah, karena semua perusahaan yang bergantung pada IT pasti membutuhkan jaringan komputer. Beberapa vendor perangkat jaringan seperti Cisco, menawarkan produk hampir pada semua area jaringan, sedangkan vendor lain seperti Riverbed mengkhususkan diri pada wilayah sempit, memberikan value-added reseller (VAR) dan pilihan tanpa batas kepada pelanggan mereka. Tetapi dimana kita memulai? Adakah nilai dalam hubungan multi-vendor atau akan berusaha keras untuk memberikan solusi single-source? Dalam konteks ini, pendekatan apa yang sebaiknya direkomendasikan kepada pelanggan?

Bagi perusahaan (enterprise), infrastruktur jaringan yang diharapkan adalah bersifat sederhana (simple), memungkinkan bagi dalam pengadaan baik dari sisi biaya, waktu maupun tenaga, mendukung aplikasi mission critical yang mereka miliki, menyebabkan operasional menjadi lebih efisien dan meningkatkan keuntungan produktifitas. Infrastruktur ini menyediakan harus menjadi fondasi yang kokoh bagi organisasi, dapat dimanfaatkan secara maksimal sesuai dengan strategibisnis, memenuhi kebutuhan saat ini sekaligus mampu menangani tuntutan yang mungkin muncul pada waktu mendatang.

Sampai saat ini, tidak ada satu vendor pun yang mampu menyediakan semua kebutuhan IT suatu perusahaan. Cisco, meskipun mempunyai cakupan perangkat jaringanpaling luas, masih ada kebutuhan IT yang tidak terpenuhi. Microsoft menyediakan sangat banyak perangkat lunak namun masih ada yang belum tercover. Belum lagi produk IT dari kedua perusahaan ini memang cenderung lebih mahal daripada pesaing mereka.

Dalam pengadaan perangkat IT, organisasi harus dibebaskan untuk memilih solusi terbaik bagi pemenuhan kebutuhan mereka yang sangat mungkin unik, berbeda dengan kebutuhan IT di organisasi lain. Ini harus dilakukan sesuai dengan strategi IT dan bisnis organisasi. Karena dibolehkan memilih, maka tersedia banyak pilihan dengan berbagai variasi baik dari sisi fitur, kemudahan dan biaya. Namun, hal yang paling penting, produk dari vendor manapun yang diambil, perlu dipastikan bahwa produk tersebut telah mengikuti standard terbuka yang ditetapkan oleh konsorsium. Mengapa organisasi sebaiknya dibebaskan memilih? Sudah sepantasnya, kepentingan dan strategi bisnis yang menggerakkan strategi IT, termasuk strategi infrastruktur jaringan, bukan strategi bisnis digerakkan oleh lingkungan apalagi oleh hanya satu vendor. Jadi, terdapat solusi multi-vendor bagi organisasi tersebut.

Kopparapu menyebutkan beberapa kelebihan dari solusi multi-vendor, di antaranya:

  1. Kebebasan memilih. Solusi single-vendor memaksa organisasi menyesuaikan diri dengan cara pandang vendor tersebut. Strategi jaringan multi-vendor memberikan wewenang kepada organisasi untuk memilih. Strategi jaringan dapat dibangun memanfaatkan solusi berbasis open-standard, solusi yang memungkinkan terjadinya evolusi dan inivasi terbaik, memunculkan persaingan kualitas dan harga yang pada akhirnya akan menguntungkan pelanggan.
  2. Mendapatkan produk terbaik sesuai dengan kebutuhan organisasi. Vendor tertentu biasanya mempunyai kelebihan pada suatu sisi namun lemah pada sisi lain. Tersedianya banyak vendor, dengan berbagai kualifikasi, memungkinkan organisasi memilih produk-produk dari vendor berbeda untuk kebutuhan berbeda dan mungkin ditempatkan pada level berbeda di organisasi tersebut. Syarat yang harus diperhatikan oleh organisasi adalah kompatibilitas antar produk yang berbeda vendor yang dipilih.
  3. Fleksibel terhadap perkembangan Inovasi. Karena jaringan dibangun berdasarkan standard terbuka, organisasi akan mampu mengadopsi solusi-solusi baru, sesuai dengan pertumbuhan dan kebutuhan bisnisnya. Karena strategi multi-vendor merupakan strategi standard terbuka, maka vendor harus terus berinovasi dan berkompetisi, menghasilkan solusi dengan kinerja lebih tinggi namun biaya lebih rendah.
  4. Mengurangi biaya dan resiko. Karena banyak pilihan, persaingan antar vendor semakin ketat, harga kemungkinan besar akan semakin rendah. Penggunaan produk IT dari multi-vendor juga mengurangi resiko. Jika salah satu vendor bangkrut atau mempunyai bug di produknya, maka dengan mudah organisasi dapat memilih alat lain yang menyediakan fitur sama, bebas bug dan mengikuti standard terbuka.
  5. Meningkatkan kepakaran staf organisasi. Tidak ada vendor yang memahami kebutuhan bisnis dan jaringan di organisasi melebihi pemahaman staf teknis organisasi tersebut. Pemilihan produk dari banyak vendor akan semakin meningkatkan kepakaran dari staf teknis walaupun ini memaksa mereka untuk terus belajar. Jika menerapkan solusi single-vendor, organisasi akan sangat tergantung pada kepakaran pihak ketiga atau vendor.

Survey di India terhadap para CIO dan pemimpin bisnis mengenai outsourcing menyatakan bahwa 45 % responden memilih untuk menggunakan banyak vendor untuk mendistribusikan kebutuhan proyek mereka. Hanya 17 % yang lebih tertarik menggunakan single vendor untuk penugasan global. Dari survey juga diketahui bahwa 94 % responden menaikkan budget outsourcing antara 5% sampai 35%. Meskipun penghematan biaya merupakan faktor penting dalam pemilihan partner outsourcing, 33 persen responden memperlihatkan bahwa kualitas layanan adalah perhatian utama.

Pelaku dan pengamat outsourcing mengatakan bahwa fase mendatang adalah multisourcing—menggunakan kombinasi penyedia layanan internal dan eksternal untuk menciptakan solusi yang highly-customized dan cost-effective bagi infrastruktur IT organisasi. Pendekatan ini mencakup [Milberg]:

  • Pemilian vendor terbaik bagi fungsi IT berbeda. Suatu organisasi mungkin memilih vendor pertama untuk perbaikan hardware, vendor kedua untuk pengembangan aplikasi, ketiga untuk dukungan desktop, dan keempat untuk administrasi sistem. Ini jamak bagi organisasi yang besar dan tersebar secara geografis.
  • Fungsi-fungsi dishare oleh sumber daya internal dan eksternal. Sebagai contoh, beberapa organisasi mendapati cost-effective jika meng-outsource-kan dukungan Help Desk level 1 dan 2, dan mengerjakan trouble-shooting lanjut sendiri, atau mengerjakan tugas administrasi jaringan dasar secara internal dan meng-outsource-kan fungsi perencanaan dan strategi kepada seorang spesialis.

Beberapa vendor, terutama yang bermaksud menyediakan solusi single-vendor, mengatakan bahwa solusi multi-vendor dapat menunculkan masalah berikut:

  1. Interoperabilitas antar vendor yang terbatas
  2. Sistem multivendor kadang dapat lebih mahal
  3. Isu dukungan yang lebih kompleks

Doley merangkum keuntungan jika jaringan dibangun secara independen dari suatu vendor tunggal, lebih tepatnya jika menggunakan suatu solusi berstandar terbuka, seperti telah disebutkan sebelumnya, menjadi 4, yaitu:

  • Menurunkan biaya. Seperti telah dijelaskan, karena menggunakan standard terbuka, persaingan akan lebih ketat sehingga berakibat pada turunnya harga. Ini menjawab nomor dua di atas.
  • Mendapatkan kemungkinan teknologi terbaik. Seperti telah dijelaskan, juga mengikuti standard terbuka, sehingga setiap produk mempunyai dasar kerja yang sama atau hampir sama. Sekaligus menjawab alasan nomor satu dan tiga di atas.
  • Lebih fleksibel terhadap kemajuan teknologi ke depan.
  • Tidak begitu terpengaruh oleh ketidakstabilan vendor

Apakah solusi single-vendor tidak mempunyai kelebihan sama sekali? Berikut ini adalah keuntungan jika menggunakan solusi single-vendor [Vandana]:

  1. Secara logistik, lebih mudah berurusan dengan hanya satu vendor.
  2. Saat ada masalah dalam suatu lingkungan multi-vendor, ada kemungkinan setiap vendor akan menyalahkan produk dari vendor lain. Pendekatan single-vendor menghilangkan saling tuduh seperti ini.
  3. Mengurangi biaya support dan training.
  4. Lebih hemat biaya, menghabiskan lebih banyak uang untuk satu vendor berrati mendapatkan diskon besar.
  5. Melangsingkan manajemen jaringan.
  6. Mengurangi upaya pengadaan.

Alasan yang dikemukakan ini masih harus dilihat secara jeli, dapat benar tetapi hanya untuk kasus tertentu.

Sedangkan kerugian dari solusi single-vendor, juga menurut Vandana adalah:

  1. Hilangnya kemampuan berbelanja dengan kesepakatan terbaik, karena terpaksa mengikuti ketentuan vendor tunggal.
  2. Kurang kekuatan untuk menegosiasikan harga yang lebih rendah.
  3. Hilangkan kepekaan terhadap teknologi baru di pasar.
  4. Resiko besar bagi organisasi, jika support habis, terdapat bug pada produk, atau akibat dari kebijakan politik terhadap vendor.
  5. Dapat dipaksa meng-upgrade produk sesuai dengan jadwal vendor, bukan sesuai kebutuhan organisasi sendiri.

Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas, dalam pemenuhan kebutuhan IT, organisasi dianjurkan untuk memilih solusi multi-vendor yang menggunakan open-standard, tidak bersandar pada solusi single-vendor. Solusi multi-vendor memberikan banyak keuntungan, lebih menjamin organisasi dapat menjalankan strategi bisnis dengan baik, menghilangkan ketergantungan pada vendor tunggal, dan mudah mengantisipasi perkembangan teknologi di masa akan datang.

Referensi
[1] Dooley, Kevin. 2002. The Case for a Vendor-Neutral Network. http://www.oreillynet.com/pub/a/network/2001/12/21/vendor.html, diakses 17 September 2008.
[2] Gardner, W. David. 2006. Survey: IT Managers Prefer Multi-Vendor Outsoucring. http://www.techweb.com/wire/ebiz/showArticle.jhtml?articleID=193100197, diakses 18 September 2008
[3] Kopparapu, Chandra. 2008. Multi-vendor Strategy. http://voicendata.ciol.com/content /NetworkingPlus /108020902.asp, diakses 17 September 2008.
[4] Lewis, Greg. How to Manage the Multi-Vendor Environment. http://www.technologyexecutivesclub.com/Articles/outsourcing/artHowManageMulti-VendorEnvironment.php, diakses 18 September 2008.
[5] Milberg, Ken. 2008. Choosing Network Equipment Vendors: Multi-vendor vs. Single-source. http://searchnetworkingchannel.techtarget.com/tip /0,289483,sid100_gci1305061,00.html, diakses 17 September 2008.
[6] Vandana, Thottoli. 2004. Single vs. Multi vendor approach?. http://techrepublic.com.com/5208-11179-0.html, diakses 17 September 2008.
[7] Vellacott, Oliver. ‘Single’ or ‘Multi-Vendor’ IP Video CCTV Systems – Choosing the Right Path. http://www.securityworldhotel.com/int/news.asp?NAV=1&YearSearch =2007&type=3&id=3629, diakses 17 September 2008

  1. 14 June 2010 at 10:09 am

    nice share..

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: